Selasa, 12 Januari 2010

Lumpuhnya kaki para jawara

JIka manusia yang bertahan dalam ketidaktahuannya tentang Tuhan dan tidak berusaha dengan segala kemampuannya untuk memehami Tuhan ia bukanlah manusia. Tuhan yang yang dapat difahami seseorang maka, ia bukanlah Tuhan.

Argumen tentang Wujud-Nya adalah Wujud-Nya itu sendiri.
Bukti bagi musyahadah-Nya adalah musyahada-Nya sendiri.
Keagungan Keabadian-Nya terbebas dari kesukaran jubah seluruh dzikir - Keunggulan
para jawara dimedan dzkir kefasihan tak mampu melukiskan-Nya.
Maka lumpuhlah kaki para jagoan di belantara ma'rifat dalam memuji-Nya.

Medan kehormatan ma'rifat tentang-Nya tak terbayangkan serta tak bisa difahami - Tonggak pemahan tentang-Nya lebih mulia dari pemberian makna dan dugaan belaka.
Di awal ma'rifat tentang-Nya, tiada pembimbing selain keterpesonaan dan
kegelisahan hebat bagi orang-orang tulus yang mengakui keTuhanan dan Ketunggalan-Nya
yang berada diluar batas nalar.
Dan kecemerlangan Cahaya keagungan-Nya, tak ada jalan lain kecuali kebutaan dan
ketidaktahuan dalam pandangan orang-orang yang memiliki penglihata bathin.
Panji keindahan tanpa awal - keabadian tanpa awal tak lain dan tak bukan
adalah Diri-Nya Sendiri.
Pada tahap ini batas pemahaman adalah lumpuhnya akal.
Tiada seorang ahli tauhidpun yang mampu mencapai substansi pemahaman tentang
wahid, kecuali Sang Wahid itu Sendiri - JIka pemahamannya berakhir, maka disitulah batas pemahamannya, bukan tentang Sang Wahid.
Sungguh, benar-benar tertipu, sombong dan bodoh orang yang meyakini bahwa ia
amat memahami Sang Wahid...!