''Tak dapat dikethuinya Esensi Tuhan'', merupakan prinsip dasar dari seluruh aktivitas manusia, karena Esensi Tuhan berada diluar kategori-kategori pengetahuan intelektual.'' Dunia fana, data inderawi yang terbatas, konstruksi logis maupun model relasional dari analogi sukar digunakan untuk memahami Tuhan yang berada diluar pemahaman. Pada kenyataannya, pikiran yang dikembangkan dan dilatih dalam dimensi-dimensi ruang dan waktu tidaklah dapat keluar dari dunia kemakhlukan dan mencapai Esensi Tuhan yang tak dapat diketahui. Melalui kehadiran atau peniadaan diri, atau melalui situasi-situasi ketidakberdayaan manusia, atau dengan mengacu pada ide kehidupan dan kematian manusia, pemahaman manusia tidak dapat mendekati Esensi Tuhan. Pada kenyataannya, manifestasi Tuhan dalam fenomena-fenomana, konstruksi lagis untuk membuktikan--Nya, ide ketidak terbatasan, atau sekedar kekhilafan murni adalah tirai yang menutupi Rahasia Tuhan yang abadi dalam Keesaan-Nya. Tidaklah mungkin menamai-Nya, karena untuk menamai dan dinamai bertentangan dengan Keesaan yang esensial dari Wujud Tuhan. Apa yang setidaknya dapat diketahui oleh pikiran manusia melalui aktivitasnya yang terbatas, tindakan kogninitif atau data-data pengalaman adalah keadaan alienasi antara makhluk dan Khaliqnya. Jurang pemisah terus ada antara yang tak terbatas dan yang terbatas.
''Yang Benar tetap Yang Benar, pencipta sebagai Khaliq, dan segala apa yang termasuk diciptakan tetaplah makhluk. Ini akan tetap selalu demikian................----------------------------------------------------
♣
''Usaha untuk membuktikan Wujud Tuhan mengubah Tuhan menjadi tuhan yang diciptakan''.
♣
''Aku'' personal menyerukan Kebenaran, Yang Esa; dalam Keesaan-Nya, Tuhan - seolah-olah dalam belantara ketidak tahuan. Jadi, aktivitas pengujaran menjadi sebuah peringatan, sebuah pengingat - dan hampir menjadi jeritan jiwa manusia yang teralienasi dari Sang Khaliq yang tak dapat diketahui.___________________________♣__________________________